Di Balik Antrean Panjang Lebaran: Hangatnya Pertemuan Amsakar dan Warga Batam di Hari yang Fitri

Di Balik Antrean Panjang Lebaran: Hangatnya Pertemuan Amsakar dan Warga Batam di Hari yang Fitri
Wali Kota Amsakar sambut warga Batam dalam Open House di Wisma Batam, Sekupang, Sabtu (21/3/2026) (mc batam)

Batam, Nagoyapos – Pagi itu, matahari belum sepenuhnya tinggi ketika halaman Wisma BP Batam di Sekupang mulai dipenuhi langkah-langkah kecil penuh harap.

Satu per satu warga datang. Ada yang menggandeng anak, ada yang berjalan beriringan bersama orang tua, dan tak sedikit pula yang membawa seluruh anggota keluarga. Busana terbaik dikenakan—baju kurung, koko, hingga gamis berwarna lembut—seolah menjadi simbol kemenangan setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga.

Example 300x600

Di hari yang fitri itu, Sabtu, 21 Maret 2026, mereka datang dengan satu tujuan: bersilaturahmi langsung dengan Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad.

Antrean pun perlahan memanjang.

Dari halaman hingga ke dalam wisma, barisan warga mengular dengan tertib. Tak ada keluhan, tak ada dorongan. Yang ada hanya senyum, sapaan ringan, dan sesekali tawa kecil di antara mereka yang saling berbagi cerita Lebaran.

Di ujung antrean, Amsakar berdiri.

Dengan peci hitam dan senyum yang tak lepas dari wajahnya, ia menyambut satu per satu warga yang datang. Tangan demi tangan dijabat. Sapaan demi sapaan dilontarkan. Kadang ia berhenti sejenak, menanyakan kabar, mendengar cerita singkat, atau sekadar membalas candaan ringan.

Momen itu terasa sederhana, namun hangat.

“Idulfitri adalah saat kita kembali ke fitrah. Saling memaafkan dan mempererat silaturahmi,” ucap Amsakar di sela-sela kegiatan.

Namun lebih dari sekadar tradisi tahunan, open house ini menjelma menjadi ruang pertemuan yang nyata—di mana batas antara pemimpin dan masyarakat seolah menghilang.

Seorang ibu paruh baya yang datang bersama cucunya tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya usai bersalaman.

“Senang bisa bertemu langsung. Rasanya dekat sekali,” ujarnya singkat, sambil tersenyum.

Di sudut lain, anak-anak berlarian kecil, sesekali berhenti memandangi keramaian dengan rasa penasaran. Sementara para orang tua berbincang santai, menciptakan suasana yang lebih mirip pertemuan keluarga besar daripada acara resmi pemerintahan.

Kehadiran Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, bersama jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat, semakin melengkapi suasana kebersamaan itu.

Tak ada sekat. Tak ada jarak.

Semua larut dalam satu rasa: kebersamaan.

Menjelang siang, arus kedatangan warga belum juga surut. Wajah-wajah lelah justru tergantikan oleh raut bahagia. Jabat tangan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik, terasa memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Di tengah suasana itu, Amsakar menyampaikan pesan yang sederhana, namun kuat.

“Kebersamaan yang kita rasakan hari ini adalah kekuatan utama dalam membangun Batam,” katanya.

Lebaran, pada akhirnya, bukan hanya tentang perayaan.

Ia adalah tentang pulang—bukan sekadar ke rumah, tetapi juga ke hati yang kembali saling terhubung.

Dan di Wisma BP Batam pagi itu, ribuan orang seolah menemukan kembali makna tersebut. (dr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *