Tanjungpinang, Nagoyapos.com – Perum Bulog memperluas distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melalui pembangunan lima gudang baru mulai 2026.
Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus menjaga stabilitas harga beras di daerah kepulauan yang selama ini sangat bergantung pada jalur distribusi laut.
Kepala Bulog Cabang Tanjungpinang, Arief Alhadihaq, mengatakan pembangunan gudang baru akan difokuskan di wilayah dengan tantangan distribusi paling tinggi, yakni Kabupaten Natuna, Kepulauan Anambas, dan Lingga.
“Khusus di Kepri, tahun ini akan dibangun infrastruktur pasca panen berupa gudang Bulog di lima titik yang menyasar pulau 3T seperti Natuna, Anambas, dan Lingga,” kata Arief dalam keterangan tertulis, Minggu (17/5/2026).
Di Kabupaten Natuna, Bulog bakal menambah tiga gudang baru masing-masing berkapasitas 1.000 ton beras. Gudang tersebut akan dibangun di Pulau Laut, Midai, dan Serasan.
Saat ini, Natuna hanya memiliki dua gudang Bulog yang berada di Ranai dan Sedanau dengan kapasitas masing-masing 1.000 ton. Dengan tambahan tiga gudang baru itu, total kapasitas penyimpanan beras Bulog di Natuna meningkat menjadi 5.000 ton.
Sementara itu, di Kabupaten Kepulauan Anambas, Bulog menyiapkan pembangunan satu gudang baru berkapasitas 1.000 ton di Pulau Jemaja. Saat ini Anambas hanya memiliki satu gudang Bulog di Tarempa dengan kapasitas serupa.
Adapun di Kabupaten Lingga, pembangunan gudang baru juga akan dilakukan di Pulau Dabok dengan kapasitas 1.000 ton. Saat ini, wilayah tersebut baru memiliki satu gudang Bulog di Daik.
“Di Lingga baru terdapat satu gudang Bulog di Daik. Jarak antara Daik dan Dabok sekitar satu jam perjalanan laut,” ujar Arief.
Gudang Permanen di Karimun
Tak hanya di wilayah 3T, Bulog juga berencana membangun gudang permanen di Kabupaten Karimun dengan kapasitas 2.000 ton. Gudang baru ini akan menggantikan gudang sewa yang saat ini hanya mampu menampung sekitar 800 ton beras.
Sedangkan untuk Batam, Tanjungpinang, dan Bintan, kapasitas gudang yang ada saat ini dinilai masih mencukupi kebutuhan distribusi beras SPHP kepada masyarakat.
Pembangunan gudang-gudang baru tersebut akan dibiayai pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sementara pemerintah daerah diminta menyiapkan hibah lahan untuk mendukung percepatan pembangunan.
Selain gudang penyimpanan, Bulog juga akan membangun fasilitas pendukung seperti kantor operasional, rumah dinas, musala, hingga fasilitas pekerja di kawasan pergudangan.
“Kita akan menempatkan SDM Bulog di pulau 3T,” kata Arief.
Ekspansi infrastruktur pangan ini dinilai penting mengingat karakteristik geografis Kepri yang terdiri dari banyak pulau dengan rentang distribusi panjang dan sangat dipengaruhi kondisi cuaca laut.
Bulog mencatat perjalanan laut dari Ranai menuju Pulau Laut di Natuna bisa memakan waktu hingga enam jam. Kondisi tersebut selama ini menjadi salah satu faktor tingginya biaya logistik pangan di wilayah perbatasan.
Dengan adanya gudang baru di pulau terluar, Bulog berharap pasokan beras dapat dikirim lebih awal sebelum musim angin utara dan gelombang tinggi datang.
“Ke depan dengan adanya gudang Bulog seperti di Pulau Laut, harga beras tetap sesuai HET. Kita juga bisa memasok beras sejak jauh-jauh hari guna mengantisipasi musim angin utara dengan gelombang tinggi mencapai empat meter,” ujarnya.
Keberadaan gudang baru ini diharapkan tidak hanya memperkuat stok Cadangan Beras Pemerintah di wilayah perbatasan, tetapi juga memperpendek rantai distribusi sehingga harga beras medium SPHP di Kepulauan Riau dapat lebih stabil dan terjangkau masyarakat.
Editor: Risman


















