Batam, Nagoyapos.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batam kini tak hanya fokus pada pembagian makanan, tetapi juga mulai membangun ekosistem ekonomi lokal yang kuat.
Melalui Badan Gizi Nasional, pemerintah pusat mulai menata penguatan rantai pasok dengan melibatkan koperasi, BUMDes, UMKM, hingga petani dan peternak lokal sebagai pemasok utama bahan pangan.
Langkah strategis ini dibahas dalam pertemuan di Kantor BKKBN, Selasa (7/4/2026), yang dihadiri berbagai pihak mulai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelaku usaha, hingga perwakilan BP Batam.
Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat BGN, Tengku Syahdana, menegaskan bahwa program MBG membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal.
“Para supplier tidak perlu khawatir, karena sudah ada penampungnya. Ini pasar yang jelas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap dapur MBG diwajibkan memiliki minimal 15 supplier guna menjaga kestabilan pasokan dan memastikan distribusi berjalan sehat.
“Jika tidak memenuhi, akan diberikan peringatan dan waktu dua minggu untuk perbaikan. Rantai pasok ini harus benar-benar terjamin,” tegasnya.
Dukungan Penuh dari BP Batam
Sementara itu, BP Batam juga menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung program ini. Deputi BP Batam, Denny Tondano, menyebut pihaknya akan mendorong petani lokal agar bisa masuk dalam rantai pasok utama.
Tak hanya itu, BP Batam juga menyiapkan dukungan infrastruktur, termasuk optimalisasi distribusi melalui Pelabuhan Batuampar yang kini telah dilengkapi sistem layanan berbasis aplikasi untuk mempercepat logistik.
“Menyangkut bahan dari luar daerah, perizinannya akan kami bantu,” ujar Denny.
Lebih jauh, BP Batam juga mendorong pengembangan sektor pangan dari hulu ke hilir, mulai dari hatchery, budidaya ikan dan udang, hingga industri pengolahan seperti fillet, frozen food, dan ready meal.
Namun di balik peluang besar tersebut, sejumlah tantangan masih membayangi. Dalam forum, terungkap bahwa petani lokal saat ini belum menjadi pemain utama dalam rantai pasok dan masih sering berperan sebagai pemasok cadangan.
Menanggapi hal itu, Denny memastikan pihaknya akan menyiapkan lahan sesuai kebutuhan agar petani lokal dapat berperan lebih besar ke depan.
Ia juga menyoroti adanya persoalan penyalahgunaan lahan oleh oknum tertentu yang justru memperjualbelikan lahan yang dipinjamkan.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita mengatur sistem perdagangannya agar berjalan baik,” tandasnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor ini, program MBG di Batam diharapkan tidak hanya meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Editor: Risman


















