Pantun Warisan Bangsa: Perwara Indonesia Dorong Pantun Masuk Sekolah dan Kampus di Tanah Melayu

Keterangan Photo : Perwara Perfect, Burhalimar , Pembins Perwara Indonesia

Batam-(NagoyaPos.Com) – Tradisi pantun kembali ditegaskan sebagai identitas budaya Nusantara dalam talkshow bertema “Berpantun Saat Memandu Acara di Tanah Melayu” yang digelar Perwara Indonesia di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (14/5/2026).

Acara yang diinisiasi Bidang Diklat dan Litbang Perwara Indonesia itu menghadirkan tiga narasumber, yakni seniman dan budayawan Bung Samson Rambah Pasir, MC sekaligus guru Kasmuri, serta tokoh adat dan pembawa acara Melayu Zarlis.

Example 300x600

Talkshow ini membahas mengapa pantun masih penting digunakan saat memandu acara, rapat, hingga resepsi di wilayah budaya Melayu pada era modern saat ini.

Pantun Disebut Warisan Budaya Nusantara

Dalam pemaparannya, Bung Samson menjelaskan bahwa pantun bukan sekadar tradisi lisan masyarakat Melayu, tetapi bagian dari warisan komunikasi budaya Nusantara yang hidup lintas daerah.

Menurutnya, budaya Melayu dahulu dipahami sebagai bangsa bahari yang membentang luas di Nusantara. Meski kini istilah Melayu sering dipersempit menjadi identitas etnis tertentu, pantun tetap bertahan sebagai simbol kesantunan dan kecerdasan sosial masyarakat.

“Pantun hidup bukan karena penciptanya masih ada, tetapi karena terus diucapkan dalam kehidupan masyarakat. Inilah warisan budaya yang sesungguhnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tradisi pantun memiliki bentuk serupa di berbagai daerah seperti Minangkabau, Aceh, Betawi, Banjar hingga Dayak.

Pengakuan dunia terhadap pantun semakin kuat setelah UNESCO menetapkan tradisi pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 17 Desember 2020 melalui nominasi bersama Indonesia dan Malaysia.

Pantun Dinilai Bukan Sekadar Bakat, Tapi Teknik yang Bisa Dipelajari

Narasumber kedua, Kasmuri, menegaskan bahwa kemampuan berpantun dapat dipelajari melalui teknik dan latihan yang tepat.

Ia menjelaskan struktur dasar pantun terdiri dari sampiran dan isi dengan pola bunyi a-b-a-b. Menurutnya, seorang MC harus mampu menyesuaikan pantun dengan suasana acara dan konteks budaya setempat.

“Pantun yang baik tidak sekadar indah didengar, tetapi mampu menyampaikan pesan dengan halus dan berkesan,” katanya.

Sebagai pendidik, Kasmuri juga mendorong metode pembelajaran pantun berbasis praktik langsung agar generasi muda tidak hanya menghafal, tetapi memahami pola dan nilai budaya di balik pantun.

Pantun Dianggap Mampu Menghidupkan Suasana Acara

Sementara itu, tokoh adat Melayu Zarlis menilai pantun memiliki kekuatan performatif dalam komunikasi publik.

Menurutnya, pantun mampu mencairkan suasana, membangun kedekatan emosional, sekaligus menyampaikan nasihat secara santun tanpa menyinggung pihak lain.

“Pantun bukan sekadar hiburan pembuka acara. Ia adalah alat komunikasi budaya yang menjaga adab dan kehormatan audiens,” ungkapnya.

Dalam sesi praktik, Zarlis membawakan pantun spontan yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan peserta talkshow.

Perwara Indonesia Dorong Pantun Masuk Sekolah dan Kampus

Melalui kegiatan ini, Perwara Indonesia mendorong agar pantun, gurindam, seloka, dan prosa Melayu dapat dihidupkan kembali melalui sekolah, kampus, sanggar seni, dan komunitas budaya.

Gagasan tersebut dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam penguatan pendidikan kebudayaan dan karakter generasi muda.

Perwara Indonesia juga membuka peluang kolaborasi dengan Lembaga Adat Melayu, komunitas budaya, praktisi seni, serta para MC di Kepulauan Riau untuk menjadikan Batam sebagai laboratorium pembelajaran pantun berbasis praktik acara publik.

Talkshow ditutup dengan pantun yang menggambarkan semangat pelestarian budaya Melayu:

“Buah mangga dibelah-belah,Campur dengan gula aren.
Jika Perwara telah turun ke sekolah,Warisan pantun semakin keren.”

 

Reporter : RY
Editor      : TJ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *