PDAM Tirta Kepri Harus Bergerak Cepat Tangani Krisis Air

_Prof. Dr. Henry Eryanto, M.M Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. (Foto: Dok Prof. Dr. Henry Eryanto)

Oleh: Prof. Henry Eryanto

Warga Kepulauan Riau sekaligus Guru Besar FEB UNJ | Mantan Dekan FEB UMRAH (2014–2016)

Example 300x600

Tanjungpinang-(NagoyaPos.Com) – Rabu, 1 April 2026 – Setiap musim kemarau tiba, persoalan air bersih kembali menghantui warga Tanjungpinang dan sekitarnya. Dalam sepekan terakhir, ketinggian air Waduk Gesek sebagai sumber air baku utama PDAM Tirta Kepri dilaporkan hanya tersisa sekitar 40–47 sentimeter, jauh di bawah kapasitas normal yang mencapai 2 meter.

Akibat kondisi tersebut, ribuan pelanggan mulai merasakan dampaknya. Air yang mengalir menjadi keruh, debitnya mengecil, bahkan di sejumlah wilayah tidak mengalir selama berhari-hari.

Namun hingga kini, belum terlihat langkah konkret yang dilakukan PDAM Tirta Kepri untuk mengatasi persoalan tersebut. Padahal, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Krisis air bersih ini sejatinya telah terjadi sejak Februari lalu. Warga di Batu Sembilan dan sejumlah wilayah lainnya mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini memaksa sebagian warga membeli air bersih yang dijual per kubik menggunakan mobil pikap, bahkan ada pula yang mengandalkan air galon untuk kebutuhan harian.

Persoalan krisis air baku di Provinsi Kepulauan Riau, khususnya Kota Tanjungpinang, bukanlah sekadar isu musiman. Masalah ini terus berulang setiap tahun dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, PDAM Tirta Kepri dituntut untuk bergerak cepat dalam menangani krisis yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Upaya penanganan tidak cukup hanya bersifat reaktif, tetapi juga harus disertai langkah pencegahan yang berkelanjutan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain menjalin kolaborasi dengan BMKG untuk memantau perubahan cuaca, serta melibatkan masyarakat dalam mencari solusi.

Selain itu, peningkatan debit air juga dapat dilakukan melalui konservasi hutan, pengerukan sedimentasi (desilting), serta normalisasi sungai. Seluruh langkah tersebut harus dilakukan secara cepat, adaptif terhadap perubahan kondisi alam, dan melibatkan kerja sama lintas sektor.

Di era saat ini, direktur PDAM tidak hanya dituntut memahami aspek teknis pengolahan air, tetapi juga harus menjadi pemimpin yang lincah (agile leader), mampu menyelaraskan strategi bisnis, keberlanjutan lingkungan, serta kecepatan dalam merespons krisis.

Dalam urusan air, keterlambatan satu hari saja dapat berdampak pada ribuan pelanggan yang kesulitan mendapatkan air bersih. Sudah saatnya kepemimpinan yang tangkas, kreatif, dan adaptif menjadi standar baru dalam pengelolaan air minum daerah.

Jika krisis ini terus berlarut tanpa penanganan yang cepat, beban biaya hidup masyarakat tentu akan semakin meningkat. Kondisi ini menjadi refleksi sekaligus ujian bagi pimpinan PDAM Tirta Kepri untuk menunjukkan kapasitasnya dalam menghadirkan solusi nyata terkait tata kelola dan distribusi air bersih bagi masyarakat Kepulauan Riau. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *