Batam, Nagoyapos – Kebutuhan air bersih di sejumlah kawasan remote area Kota Batam semakin mendesak seiring bertambahnya perumahan yang belum terlayani distribusi.
Beberapa wilayah seperti Tanjungsengkuang dan Batumerah (Batuampar), Patam Lestari (Sekupang), serta Tanjung Piayu Laut (Seibeduk) menjadi contoh daerah yang masih mengalami keterbatasan pasokan air bersih hingga saat ini.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyebut kawasan tersebut masuk kategori stress area, yakni wilayah yang belum teraliri air bersih penuh selama 24 jam.
“Dari total 24 wilayah stress area, sekarang sudah turun menjadi 18 wilayah. Penurunan ini berkat pembangunan IPA (Instalasi Pengolahan Air) Duriangkang dan IPA Tembesi,” jelas Tuty, Minggu (17/8/2025).
Proyek Strategis Jadi Solusi Permanen
BP Batam menargetkan penyelesaian masalah ini lewat sejumlah proyek besar, salah satunya pembangunan valve di Kampung Ponjen dan IPA Sei Ladi yang diproyeksikan rampung pada Juni 2026.
“IPA Sei Ladi akan menjadi solusi permanen untuk menambah kapasitas pasokan air bersih bagi masyarakat Batam,” tegas Tuty.
Sambil menunggu proyek selesai, BP Batam menyiapkan langkah darurat berupa pemasangan tandon air sementara di titik pemukiman serta pengiriman pasokan tambahan lewat truk tangki ke daerah yang sulit dijangkau pipa distribusi.
“Walaupun belum 24 jam penuh, setidaknya akses warga terhadap air bersih bisa terbantu dengan distribusi tandon dan truk tangki,” tambahnya.
Anggaran Rp26 Miliar
Dari sisi anggaran, BP Batam menyiapkan dana hingga Rp26 miliar untuk pembangunan IPA Sei Ladi. Proyek ini diyakini akan memperkuat sistem distribusi sekaligus mengurangi ketergantungan pada suplai darurat.
“Kami berkomitmen agar semua masyarakat Batam mendapatkan akses air bersih yang layak dan merata,” tegas Tuty. (cr)


















